Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Komunikasi
Sentuhan merupakan alat
komunikasi yang penting bagi gajah. Individu menyapai satu sama lain dengan
mengelus atau melilit belalai; belalai juga dililit saat kompetisi ringan.
Gajah yang lebih tua akan menampar dengan menggunakan belalai, menendang, dan
mendorong untuk mendisiplinkan yang lebih muda. Individu berusia atau berjenis
kelamin apapun akan menyentuh mulut, kelenjar temporal, dan alat kelamin saat
sedang bertemu atau jika senang. Dengan melakukan hal tersebut, individu dapat
mengambil sinyal kimiawi. Sementara itu, sentuhan merupakan cara berkomunikasi
antara induk dan anak yang sangat penting. Saat bergerak, induk gajah menyentuh
anak mereka dengan menggunakan belalai atau kaki bila sedang berdampingan, atau
dengan ekor jika anak gajah berada di belakang. Apabila anak gajah ingin
beristirahat, ia akan menekan kaki depan ibunya, sementara bila ingin menyusui,
ia akan menyentuh payudara atau kakinya.[117]
Gajah menunjukkan ancaman
dengan mengangkat kepalanya dan membentangkan telinganya. Mereka juga dapat
menambah efeknya dengan menggoncangkan kepala, menggertakan telinga, serta
melempar debu dan tumbuhan. Saat melakukan hal-hal tersebut, gajah biasanya
hanya menggertak saja. Di sisi lain, gajah yang senang biasanya mengangkat
belalainya. Gajah yang tunduk akan menundukkan kepala dan belalainya, serta
meratakan telinganya di lehernya, sementara gajah yang menerima tantangan akan
membuat telinganya berbentuk V.[118]
Gajah menghasilkan suara
melalui laring, walaupun beberapa dimodifikasi oleh
belalai. Salah satu suara gajah yang paling dikenal adalah suara terompet yang
biasanya dibunyikan saat sedang senang, dalam keadaan sulit, atau agresif.[119] Gajah yang sedang bertengkar
biasanya meraung, dan yang terluka akan melenguh.[120] Bunyi berfrekuensi rendah
dihasilkan saat sedang sedikit bergairah,[121] dan beberapa di antaranya
merupakan infrasuara.[122] Panggilan infrasuara
merupakan cara berkomunikasi yang penting, terutama untuk jarak jauh.[119] Frekuensi panggilan
infrasuara pada gajah asia berkisar antara 14–24 Hz dengan tekanan
suara sebesar 85–90 dB yang biasanya berlangsung selama 10–15
detik.[122] Sementara itu, frekuensi pada
gajah afrika kurang lebih from 15–35 Hz dengan tekanan suara yang mencapai
117 dB, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan jarak maksimum
10 km (6 mi).[123]
Bunyi berfrekuensi rendah
yang divisualisasikan oleh kamera akustik.
Di Amboseli, beberapa
panggilan infrasuara telah diidentifikasi. Bunyi berfrekuensi rendah untuk
menyapa dikeluarkan oleh anggota salah satu kelompok keluarga setelah terpisah
selama beberapa jam. Panggilan yang dibuat oleh individu yang telah terpisah
biasanya lembut dan tidak termodulasi. Panggilan
tersebut dijawab oleh panggilan yang awalnya keras, tetapi kemudian menjadi
lebih lembut. Bunyi berfrekuensi rendah yang lembut dibunyikan oleh matriark
untuk memberitahu anggota kelompok lain untuk pindah ke tempat lain. Gajah
jantan yang sedang mengalami musth mengeluarkan bunyi berfrekuensi rendah yang
bergetar, sehingga dijuluki “sepeda motor”. Bunyi gajah yang sedang mengalami
musth dijawab oleh "paduan suara betina", yaitu suara-suara termodulasi
dan berfrekuensi rendah yang dihasilkan oleh beberapa gajah betina. Suara
panggilan yang keras dapat dibunyikan oleh gajah betina setelah berkawin,
sementara anggota keluarganya mengeluarkan suara kegembiraan yang disebut
"hiruk pikuk perkawinan".[121]
Gajah juga dapat
melakukan komunikasi seismik,
yaitu getaran yang dihasilkan oleh tubrukan ke permukaan tanah atau gelombang
akustik yang melintasi tanah. Gajah tampaknya bergantung pada tulang kaki dan
pundaknya untuk mentransmisikan sinyal ke telinga tengah. Setelah mendeteksi
sinyal seismik, gajah bersandar ke depan dan memberatkan kaki depannya. Gajah
memiliki beberapa adaptasi yang cocok untuk melakukan komunikasi seismik.
Struktur khusus pada kaki gajah yang membantu menopang beban (cushion pads)
memiliki nodus tulang rawan dan serupa dengan lemak akustik pada mamalia laut seperti paus bergigi dan sirenia. Otot
seperti sphincter di
sekitar saluran
telinga menyempitkan jalur masuk, sehingga meredam sinyal
akustik dan membuat gajah dapat mendengar lebih banyak sinyal seismik.[124] Gajah tampaknya menggunakan
seismik untuk beberapa hal. Individu yang sedang berlari dapat menghasilkan
sinyal seismik yang dapat didengar pada jarak yang jauh.[125] Saat mendeteksi panggilan
yang memberi tahu bahaya predator, gajah akan berpostur defensif dan kelompok
keluarga akan bergerombol. Gelombang seismik yang dihasilkan melalui lokomosi
merambat dengan kecepatan hingga 32 km (20 mi), sementara kecepatan
gelombang hasil vokalisasi hanya 16 km (10 mi).[126]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar