Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Organisasi
sosial
Kehidupan sosial gajah
jantan dan betina sangat berbeda. Gajah betina menghabiskan hidupnya dalam
kelompok keluarga yangmatrilineal. Beberapa
kelompok terdiri dari lebih dari sepuluh anggota (termasuk tiga pasangan ibu
dan anak) yang dipimpin oleh seekormatriark yang
biasanya merupakan betina tertua.[94] Sang matriark memimpin
kelompok hingga ia meninggal[14] atau jika ia tidak lagi
mempunyai cukup energi untuk menjalankan tugasnya;[95] menurut penelitian di kebun
binatang, ketika matriark meninggal, kandungankortikosteron (hormon stres) feses
meningkat tajam pada gajah yang masih hidup.[96] Saat tugasnya berakhir, anak perempuan
tertua sang matriark akan menggantikannya, bahkan bila saudara perempuan sang
matriark masih hidup.[14] Matriark yang lebih tua
cenderung menjadi pembuat keputusan yang lebih efektif.[97]
Kehidupan sosial gajah
betina tidak hanya terbatas pada satuan keluarga yang kecil. Di Taman Nasional
Amboseli, Kenya, gajah betina juga berinteraksi dengan keluarga,
klan, dan subpopulasi lain. Kelompok keluarga dapat bergaul dan membuat ikatan
dengan kelompok lain, sehingga membentuk kelompok ikatan. Kelompok ikatan
biasanya terdiri dari dua kelompok keluarga. Pada musim kemarau,
keluarga-keluarga gajah mungkin berkumpul dan membentuk klan. Kelompok-kelompok
dalam klan ini tidak memiliki ikatan yang kuat, tetapi mereka mempertahankan
wilayah musim kemarau mereka dari klan lain. Biasanya terdapat sembilan
kelompok di dalam satu klan. Populasi gajah di Amboseli juga terbagi menjadi
subpopulasi “pusat” dan “tepian”.[94]
Beberapa populasi gajah
di India dan Sri Lanka juga memiliki organisasi sosial yang serupa. Di wilayah
tersebut tampaknya terdapat satuan keluarga yang kohesif dan perkumpulan yang
lebih longgar. Mereka memiliki “satuan perawatan” dan “satuan pengurusan anak”.
Di India selatan, populasi gajah terdiri dari kelompok keluarga, kelompok
ikatan, dan mungkin klan. Kelompok keluarga cenderung kecil dan terdiri dari
satu atau dua betina dewasa dan anaknya. Kelompok yang memiliki lebih dari dua
betina dewasa disebut “kelompok gabungan”. Populasi gajah di Malaya bahkan
memiliki satuan keluarga yang lebih kecil, dan biasanya tidak memiliki
organisasi sosial yang lebih tinggi tingkatannya dari keluarga atau kelompok
ikatan. Sementara itu, kelompok gajah hutan afrika umumnya terdiri dari satu
betina dewasa dengan satu hingga tiga anak. Kelompok ini tampak berinteraksi
dengan kelompok lain, terutama di tanah terbuka.[94]
Kehidupan gajah jantan
sendiri sangat berbeda. Menjelang dewasa, gajah jantan akan menghabiskan lebih
banyak waktu di luar kelompoknya dan bergaul dengan jantan dari luar atau
bahkan kelompok lain. Di Amboseli, gajah jantan yang berusia 14–15 tahun
menghabiskan 80% waktunya di luar kelompok keluarganya. Gajah betina dewasa di
kelompok mulai menjadi agresif terhadap sang jantan, yang akan mendorongnya
untuk meninggalkan kelompok secara permanen. Setelah sang jantan meninggalkan
kelompok, mereka akan hidup sendiri atau bersama jantan lain. Gajah jantan di
hutan yang padat biasanya hidup sendiri. Gajah asia jantan pada umumnya
menyendiri, tetapi kadang-kadang membentuk kelompok yang terdiri dari dua
individu atau lebih; kelompok terbesar terdiri dari tujuh anggota. Sementara
itu, gajah semak afrika jantan membentuk kelompok yang jumlah anggotanya
melebihi 10 individu; kelompok terbesar terdiri dari 144 anggota.[98] Terdapat hierarki di antara
para jantan, baik pada yang menyendiri maupun pada yang berkelompok. Dominasi
bergantung pada usia, besar tubuh, dan kondisi seksual.[98] Jantan yang lebih tua tampak
mampu mengontrol keagresifan jantan yang lebih mudah dan mencegah mereka
membentuk “geng”.[99] Gajah jantan dan betina
berkumpul untuk bereproduksi. Gajah jantan tampaknya berhubungan dengan
kelompok keluarga bila terdapat gajah betina yang sedang mengalami siklus
estrus.[98]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar