Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Etimologi
Dalam bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Melayu, Minangkabau,
dan Aceh, hewan ini disebut "gajah".
Sementara itu, gajah dikenal dengan sebutan "elephant"
dalam bahasa Inggris.
Kata "elephant" berasal dari bahasa Latin elephas (genitif elephantis)
(yang berarti "gajah"), yang merupakan Latinisasi dari kata ἐλέφας (elephas)
(genitif ἐλέφαντος (elephantos)) dalam bahasa Yunani;[1] kata tersebut kemungkinan
berasal dari bahasa non-Indo-Eropa, yaitu Fenisia.[2] Kata e-re-pa dan e-re-pa-to digunakan
di Yunani Mykenai dalam
aksara silabis Linear B.[3][4] Seperti
di Yunani Mykenai, Homer menggunakan kata
tersebut untuk gading, namun setelah
masa Herodotus istilah tersebut juga merujuk
pada hewan gajah.[1] Pendahulu kata "elephant",
yaitu olyfaunt, baru muncul dalam bahasa Inggris Pertengahan sekitar
tahun 1300, dan kata tersebut dipinjam dari kata dalam bahasa Perancis Kuno, oliphant (abad
ke-12).[2] Dalam bahasa Swahili, gajah disebut Ndovu atau Tembo.
Gajah dijuluki hastin dalam bahasa Sansekerta,[5] sementara
dalam bahasa Hindi disebut hāthī (हाथी).[6] Loxodonta, yang merupakan nama generik
untuk gajah afrika, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “gigi bersisi
miring ".[7]
Taksonomi
Klasifikasi,
spesies, dan subspesies
Gajah tergolong dalam
familia Elephantidae,
satu-satunya familia dalam ordo Proboscidea yang masih ada. Kerabat
terdekat yang masih ada meliputi sirenia (dugong dan lembu laut) dan hyrax;
mereka berada dalam klad yang sama, yaitu
klad Paenungulata dalam
superordoAfrotheria.[8] Gajah dan sirenia juga
dikelompokan dalam klad Tethytheria.[9] Secara tradisional, terdapat
dua spesies gajah yang diakui, yaitu gajah afrika (Loxodonta africana)
dan gajah asia (Elephas maximus). Gajah afrika
memiliki telinga yang besar, punggung yang cekung, kulit yang lebih berkerut,
daerah perut yang miring, dan dua perpanjangan yang seperti jari di ujung
belalai. Telinga gajah asia lebih kecil, punggungnya cembung, kulitnya lebih
halus, daerah perutnya horizontal dan kadang-kadang melengkung di tengah, dan
ujung belalainya hanya memiliki satu perpanjangan. Bubungan di gigi geraham gajah asia lebih sempit bila
dibandingkan dengan geraham gajah afrika yang berbentuk seperti permata. Gajah
asia juga memiliki benjolan di bagian dorsal kepalanya dan tanda depigmentasi di kulitnya.[10] Secara umum, gajah afrika
lebih besar dari gajah asia.
Zoolog Swedia Carl Linnaeus pertama kali
mendeskripsikan genus Elephas dan seekor gajah dari Sri Lanka dengan nama binomialElephas
maximus pada tahun 1758. Kemudian, pada tahun 1798, Georges Cuvier mengklasifikasikan gajah india dengan nama binomialElephas
indicus. Zoolog Belanda Coenraad Jacob
Temminck mendeskripsikan gajah sumatra pada tahun 1847 dengan nama
binomialElephas sumatranus, sementara zoolog Inggris Frederick Nutter
Chasen mengklasifikasikan ketiganya sebagai subspesies gajah asia pada tahun 1940.[11] Subspesies gajah asia memiliki
perbedaan warna dan kadar depigmentasi. Gajah sri lanka (Elephas maximus
maximus) menghuni Sri Lanka, gajah india (E. m. indicus)
berasal dari daratan asia (di anak benua India dan Indochina), dan gajah sumatra (E. m. sumatranus)
dapat ditemui di pulau Sumatra.[10] Salah satu subspesies yang
diperdebatkan, yaitu gajah borneo,
tinggal diBorneo utara dan lebih kecil dari
subspesies lain. Gajah ini juga memiliki telinga yang lebih besar, ekor yang
lebih panjang, dan taring yang lebih lurus dari gajah biasa. Zoolog Sri
Lanka Paules
Edward Pieris Deraniyagala pada tahun 1950 mendeskripsikannya
dengannama trinomial Elephas
maximus borneensis, dengan menjadikan ilustrasi di National
Geographic sebagai spesimen
tipenya.[12] Gajah ini kemudian digolongkan
sebagai E. m. indicus atau E. m. sumatranus. Analisis
genetik pada tahun 2003 menunjukkan bahwa nenek moyang gajah
borneo terpisah dari populasi di daratan Asia sekitar 300.000 tahun yang
lalu.[13] Namun, penelitian pada tahun
2008 mengindikasikan bahwa gajah borneo tidak berasal dari pulau tersebut,
namun dibawa oleh Sultan Sulu dari Jawa sebelum
tahun 1521.[12]
Gajah afrika pertama kali
dinamai oleh naturalis Jerman Johann
Friedrich Blumenbach pada tahun 1797 dengan nama binomial Elephas
africana.[14] Genus Loxodonta diyakini
dinamai oleh Georges Cuvier pada tahun 1825. Cuvier mengejanya Loxodonte dan
seorang penulis anonim meromanisasi ejaan
tersebut menjadi Loxodonta; International Code of Zoological Nomenclature telah
mengakui perubahan ini.[15] Pada tahun 1942, 18 subspesies
gajah afrika telah diakui oleh Henry Fairfield Osborn, namun data morfologis telah
mengurangi jumlah subspesies yang terklasifikasi,[16] dan pada tahun 1990-an hanya terdapat dua
subspesies yang diakui, yaitu gajah semak afrika (L. a. africana)
dan gajah hutan afrika (L. a. cyclotis);[17] telinga gajah hutan afrika lebih kecil dan
bundar, belalaiNya lebih kurus dan lurus, dan habitatnya terbatas pada wilayah
berhutan di Afrika Barat dan Tengah.[18] Jurnal yang diterbitkan pada
tahun 2000 memberikan argumen agar kedua subspesies tersebut diangkat menjadi
spesies L. africana dan L. cyclotis berdasarkan
morfologi tengkorak.[19] Penelitian DNA yang
diterbitkan pada tahun 2001 dan 2007 juga menunjukkan bahwa mereka adalah
spesies yang berbeda,[20][21] sementara penelitian pada tahun 2002 dan
2005 menyimpulkan bahwa keduanya adalah spesies yang sama.[22][23] Akan tetapi, hasil penelitian
yang diterbitkan pada tahun 2010 mendukung pengubahan status menjadi spesies.[24] Hingga tahun 2011, penamaan
gajah afrika dalam taksonomi masih
diperdebatkan.[25] Edisi ketiga Mammal Species of the World menggolongkan
gajah semak afrika dan gajah hutan afrika sebagai spesies yang terpisah,[15] dan tidak memasukkan
subspesies untukLoxodonta africana.[15] Pendekatan ini tidak diikuti
oleh World
Conservation Monitoring Centre atau IUCN, yang menganggap L. cyclotis sebagai
sinonim dari L. africana.[26][27] Beberapa bukti menunjukkan bahwa gajah di
Afrika Barat adalah spesies yang terpisah,[28] walaupun hal ini masih diperdebatkan.[23][25] Gajah kerdil di Cekungan Kongo yang diduga merupakan
spesies terpisah (Loxodonta pumilio) kemungkinan merupakan gajah hutan
yang memiliki ukuran kecil dan/atau kematangan awal karena keadaan lingkungan.[29]
Evolusi
dan kerabat yang sudah punah
Diperkirakan terdapat
lebih dari 161 anggota ordo Proboscidea dengan tiga peristiwa radiasi evolusioner. Proboscid pertama,
yaitu Eritherium dan Phosphatherium dari Afrika pada
masa Paleosen akhir, menjadi tanda terjadinya
radiasi pertama.[30] Pada masa Eosen,
terdapat Anthracobunidae dari
anak benua India dan Numidotherium, Moeritherium, dan Barytherium dari Afrika. Hewan-hewan
ini relatif kecil dan bersifat akuatik. Nantinya, genera seperti Phiomia dan Palaeomastodon muncul; habitat Palaeomastodonkemungkinan
berada di hutan atau daerah berhutan terbuka. Keanekaragaman Proboscidea mulai
berkurang pada masa Oligosen.[31] Salah satu spesies penting dari masa ini
adalah Eritreum
melakeghebrekristosi dari Tanduk Afrika, yang mungkin merupakan nenek
moyang gajah.[32] Pada awal periode Miosen terjadi diversifikasi kedua dengan
munculnya Deinotheriidae dan Mammutidae.
Deinotheriidae memiliki kekerabatan dengan Barytherium dan
hidup di Afrika dan Eurasia,[33] sementara Mammutidae mungkin
merupakan keturunan Eritreum[32] dan menyebar ke Amerika Utara.[33]
Radiasi kedua berlangsung
dengan munculnya Gomphothere pada
masa Miosen,[33] yang kemungkinan berevolusi
dari Eritreum;[32]familia ini berasal dari Afrika dan menyebar ke semua benua kecuali Australia dan Antarktika. Anggota kelompok ini meliputiGomphotherium dan Platybelodon.[33] Radiasi ketiga terjadi pada
akhir Miosen dan mengakibatkan munculnya elephantids, yang berasal dari
Gomphothere dan secara perlahan menggantikan mereka.[34] Primelephas gomphotheroides dari
Afrika menghasilkan Loxodonta,Mammuthus, dan Elephas. Loxodonta merupakan
percabangan pertama, yang berlangsung antara masa Miosen dan Pliosen, sementaraMammuthus dan Elephas berpisah
pada awal masa Pliosen. Loxodonta tetap menghuni Afrika,
sementara Mammuthus dan Elephasmenyebar ke
Eurasia, dan Mammuthus mencapai Amerika Utara. Pada saat yang
sama, stegodontid (kelompok
Proboscidea lain yang merupakan keturunan dari Gomphothere) menyebar di Asia,
termasuk di anak benua India, Cina, Asia Tenggara, dan Jepang. Mammutid terus berevolusi menjadi
spesies baru, seperti mastodon amerika.[35]
Pada awal masa Pleistosen, tingkat spesiasi elephantid meninggi. Loxodonta atlantica menjadi
spesies yang paling umum di Afrika utara dan selatan, namun digantikan
oleh Elephas iolensis pada akhir masa Pleistosen.
Spesies Loxodonta modern baru menjadi dominan setelah Elephas
iolensis mengalami kepunahan. Elephas berdiversifikasi
menjadi spesies baru di Asia, seperti E. hysudricus danE. platycephus;[36] E. platycephus kemungkinan
merupakan nenek moyang gajah asia modern.[37] Mammuthus berevolusi menjadi
beberapa spesies, termasuk spesies mammoth berbulu yang terkenal.[36] Pada masa Pleistosen Akhir, akibat terjadinya glasiasi
kuarter, sebagian besar spesies Proboscidea mengalami kepunahan,
dan kurang lebih 50% genera dengan massa lebih dari 5 kg (11 lb)
musnah.[38]
Proboscidea mengalami
beberapa tren evolusi, seperti pembesaran ukuran, yang membuat banyak spesies
memiliki tinggi hingga mencapai 4 m (13 ft).[39] Seperti megaherbivora lainnya, termasuk Sauropoda yang telah punah, ukuran gajah
mungkin berkembang untuk memungkinkan mereka bertahan dengan memakan tumbuhan
bernutrisi rendah.[40] Anggota tubuh mereka tumbuh menjadi lebih
panjang dan kakinya menjadi lebih pendek dan luas. Proboscidea awal
memiliki tulang rahang yang
lebih panjang dan tempurung kepala yang lebih kecil, sementara Proboscidea
selanjutnya memiliki tulang rahang yang lebih pendek, yang menggeser pusat gravitasi pada kepala. Tengkorak
menjadi lebih besar, terutama tempurung kepala, sementara leher memendek agar
lebih dapat menopang tengkorak. Pembesaran ukuran mengakibatkan munculnya
belalai yang membantu menjangkau sesuatu. Jumlah gigi geraham kecil, gigi seri, dan gigi taring berkurang. Gigi geraham dan
geraham kecil menjadi lebih besar dan terspesialisasi. Gigi seri kedua atas
berubah menjadi taring, yang mungkin lurus, melengkung (ke atas atau ke bawah),
atau berputar (tergantung spesies). Pada beberapa spesies Proboscidea,
taringnya berasal dari gigi seri bawahnya.[39]Gajah masih menunjukkan beberapa
karakteristik yang merupakan turunan dari nenek moyang mereka yang akuatik,
seperti anatomi telinga
tengah dan testis internal pada
jantan.[41]
Terdapat perdebatan
mengenai hubungan kekerabatan antara Mammuthus dengan Loxodonta atau Elephas.
Beberapa penelitian DNA menunjukkan bahwa Mammuthus lebih
berhubungan erat dengan Loxodonta,[42][43] sementara penelitian lainnya meyakini
kedekatan Mammuthus dengan Elephas.[9] Namun, analisis genom mitokondrial mammoth berbulu
(diurutkan tahun 2005) membuktikan bahwa Mammuthus lebih dekat
dengan Elephas.[20][24][44] Bukti morfologis menunjukkan bahwa Mammuthus dan Elephasmerupakan taksa saudara, sementara hasil
perbandingan protein albumin dan kolagen mengindikasikan bahwa jarak
kekerabatan antara ketiganya kurang lebih sama.[45]Beberapa ilmuwan meyakini bahwa embrio mammoth hasil kloning suatu saat dapat dimasukkan ke
rahim gajah asia[46]
Spesies
kerdil
Beberapa spesies
Proboscidea hidup di pulau dan mengalami dwarfisme. Hal ini berlangsung pada masa
Pleistosen, ketika beberapa populasi gajah terisolasi akibat meningkatnya
permukaan laut, walaupun gajah kerdil sudah ada pada masa Pliosen awal.
Gajah-gajah tersebut kemungkinan menyusut karena ketiadaan populasi predator
yang besar dan sumber daya yang terbatas. Sebaliknya, mamalia seperti hewan
pengerat mengalami gigantisme dalam
keadaan seperti ini. Proboscidea kerdil pernah hidup di Indonesia, Kepulauan
Channel California, dan beberapa pulau di Laut Tengah.[47]
Elephas celebensis di Sulawesi diyakini merupakan hasil
dwarfisme dari Elephas
planifrons. Elephas falconeri di Malta dan Sisilia (yang tingginya hanya mencapai
1 m (3 ft)) kemungkinan berevolusi dari Palaeoloxodon
antiquus. Keturunan Palaeoloxodon antiquus lainnya
pernah ada di Siprus. Gajah kerdil yang tidak diketahui
nenek moyangnya juga pernah hidup di Kreta, Kyklades, dan Dodecanese, sementara mammoth kerdil pernah
ada di Sardinia.[47] Mammoth kolumbia mengkolonisasi Kepulauan
Channel California dan berevolusi menjadi mammoth pigmi (Mammuthus exilis).
Tinggi spesies ini mencapai 1.2–1.8 m (4–6 ft) dan massanya kurang
lebih 200–2,000 kg (440–4,410 lb). Populasi mammoth berbulu kecil
pernah bertahan hidup di Pulau Wrangel, kini 87 mil di sebelah utara
pesisir Siberia, hingga 4.000 tahun yang lalu.[47] Setelah ditemukan pada tahun
1993, mereka dianggap sebagai mammoth kerdil.[48] Klasifikasi ini telah ditinjau
ulang dan semenjak Konferensi Mammoth Internasional Kedua pada tahun 1999,
hewan-hewan tersebut tidak lagi dianggap sebagai "mammoth kerdil"
yang sesungguhnya.[49]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar