Selasa, 19 Juli 2016

Fakta - Fakta tentang Gajah (1)

Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Etimologi
Dalam bahasa IndonesiaJawaSundaMelayuMinangkabau, dan Aceh, hewan ini disebut "gajah". Sementara itu, gajah dikenal dengan sebutan "elephant" dalam bahasa Inggris. Kata "elephant" berasal dari bahasa Latin elephas (genitif elephantis) (yang berarti "gajah"), yang merupakan Latinisasi dari kata ἐλέφας (elephas) (genitif ἐλέφαντος (elephantos)) dalam bahasa Yunani;[1] kata tersebut kemungkinan berasal dari bahasa non-Indo-Eropa, yaitu Fenisia.[2] Kata e-re-pa dan e-re-pa-to digunakan di Yunani Mykenai dalam aksara silabis Linear B.[3][4] Seperti di Yunani Mykenai, Homer menggunakan kata tersebut untuk gading, namun setelah masa Herodotus istilah tersebut juga merujuk pada hewan gajah.[1] Pendahulu kata "elephant", yaitu olyfaunt, baru muncul dalam bahasa Inggris Pertengahan sekitar tahun 1300, dan kata tersebut dipinjam dari kata dalam bahasa Perancis Kunooliphant (abad ke-12).[2] Dalam bahasa Swahili, gajah disebut Ndovu atau Tembo. Gajah dijuluki hastin dalam bahasa Sansekerta,[5] sementara dalam bahasa Hindi disebut hāthī (हाथी).[6] Loxodonta, yang merupakan nama generik untuk gajah afrika, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “gigi bersisi miring ".[7]
Taksonomi
Klasifikasi, spesies, dan subspesies
Gajah tergolong dalam familia Elephantidae, satu-satunya familia dalam ordo Proboscidea yang masih ada. Kerabat terdekat yang masih ada meliputi sirenia (dugong dan lembu laut) dan hyrax; mereka berada dalam klad yang sama, yaitu klad Paenungulata dalam superordoAfrotheria.[8] Gajah dan sirenia juga dikelompokan dalam klad Tethytheria.[9] Secara tradisional, terdapat dua spesies gajah yang diakui, yaitu gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus). Gajah afrika memiliki telinga yang besar, punggung yang cekung, kulit yang lebih berkerut, daerah perut yang miring, dan dua perpanjangan yang seperti jari di ujung belalai. Telinga gajah asia lebih kecil, punggungnya cembung, kulitnya lebih halus, daerah perutnya horizontal dan kadang-kadang melengkung di tengah, dan ujung belalainya hanya memiliki satu perpanjangan. Bubungan di gigi geraham gajah asia lebih sempit bila dibandingkan dengan geraham gajah afrika yang berbentuk seperti permata. Gajah asia juga memiliki benjolan di bagian dorsal kepalanya dan tanda depigmentasi di kulitnya.[10] Secara umum, gajah afrika lebih besar dari gajah asia.
Zoolog Swedia Carl Linnaeus pertama kali mendeskripsikan genus Elephas dan seekor gajah dari Sri Lanka dengan nama binomialElephas maximus pada tahun 1758. Kemudian, pada tahun 1798, Georges Cuvier mengklasifikasikan gajah india dengan nama binomialElephas indicus. Zoolog Belanda Coenraad Jacob Temminck mendeskripsikan gajah sumatra pada tahun 1847 dengan nama binomialElephas sumatranus, sementara zoolog Inggris Frederick Nutter Chasen mengklasifikasikan ketiganya sebagai subspesies gajah asia pada tahun 1940.[11] Subspesies gajah asia memiliki perbedaan warna dan kadar depigmentasi. Gajah sri lanka (Elephas maximus maximus) menghuni Sri Lanka, gajah india (E. m. indicus) berasal dari daratan asia (di anak benua India dan Indochina), dan gajah sumatra (E. m. sumatranus) dapat ditemui di pulau Sumatra.[10] Salah satu subspesies yang diperdebatkan, yaitu gajah borneo, tinggal diBorneo utara dan lebih kecil dari subspesies lain. Gajah ini juga memiliki telinga yang lebih besar, ekor yang lebih panjang, dan taring yang lebih lurus dari gajah biasa. Zoolog Sri Lanka Paules Edward Pieris Deraniyagala pada tahun 1950 mendeskripsikannya dengannama trinomial Elephas maximus borneensis, dengan menjadikan ilustrasi di National Geographic sebagai spesimen tipenya.[12] Gajah ini kemudian digolongkan sebagai E. m. indicus atau E. m. sumatranusAnalisis genetik pada tahun 2003 menunjukkan bahwa nenek moyang gajah borneo terpisah dari populasi di daratan Asia sekitar 300.000 tahun yang lalu.[13] Namun, penelitian pada tahun 2008 mengindikasikan bahwa gajah borneo tidak berasal dari pulau tersebut, namun dibawa oleh Sultan Sulu dari Jawa sebelum tahun 1521.[12]
Gajah afrika pertama kali dinamai oleh naturalis Jerman Johann Friedrich Blumenbach pada tahun 1797 dengan nama binomial Elephas africana.[14] Genus Loxodonta diyakini dinamai oleh Georges Cuvier pada tahun 1825. Cuvier mengejanya Loxodonte dan seorang penulis anonim meromanisasi ejaan tersebut menjadi LoxodontaInternational Code of Zoological Nomenclature telah mengakui perubahan ini.[15] Pada tahun 1942, 18 subspesies gajah afrika telah diakui oleh Henry Fairfield Osborn, namun data morfologis telah mengurangi jumlah subspesies yang terklasifikasi,[16] dan pada tahun 1990-an hanya terdapat dua subspesies yang diakui, yaitu gajah semak afrika (L. a. africana) dan gajah hutan afrika (L. a. cyclotis);[17] telinga gajah hutan afrika lebih kecil dan bundar, belalaiNya lebih kurus dan lurus, dan habitatnya terbatas pada wilayah berhutan di Afrika Barat dan Tengah.[18] Jurnal yang diterbitkan pada tahun 2000 memberikan argumen agar kedua subspesies tersebut diangkat menjadi spesies L. africana dan L. cyclotis berdasarkan morfologi tengkorak.[19] Penelitian DNA yang diterbitkan pada tahun 2001 dan 2007 juga menunjukkan bahwa mereka adalah spesies yang berbeda,[20][21] sementara penelitian pada tahun 2002 dan 2005 menyimpulkan bahwa keduanya adalah spesies yang sama.[22][23] Akan tetapi, hasil penelitian yang diterbitkan pada tahun 2010 mendukung pengubahan status menjadi spesies.[24] Hingga tahun 2011, penamaan gajah afrika dalam taksonomi masih diperdebatkan.[25] Edisi ketiga Mammal Species of the World menggolongkan gajah semak afrika dan gajah hutan afrika sebagai spesies yang terpisah,[15] dan tidak memasukkan subspesies untukLoxodonta africana.[15] Pendekatan ini tidak diikuti oleh World Conservation Monitoring Centre atau IUCN, yang menganggap L. cyclotis sebagai sinonim dari L. africana.[26][27] Beberapa bukti menunjukkan bahwa gajah di Afrika Barat adalah spesies yang terpisah,[28] walaupun hal ini masih diperdebatkan.[23][25] Gajah kerdil di Cekungan Kongo yang diduga merupakan spesies terpisah (Loxodonta pumilio) kemungkinan merupakan gajah hutan yang memiliki ukuran kecil dan/atau kematangan awal karena keadaan lingkungan.[29]
Evolusi dan kerabat yang sudah punah
Diperkirakan terdapat lebih dari 161 anggota ordo Proboscidea dengan tiga peristiwa radiasi evolusioner. Proboscid pertama, yaitu Eritherium dan Phosphatherium dari Afrika pada masa Paleosen akhir, menjadi tanda terjadinya radiasi pertama.[30] Pada masa Eosen, terdapat Anthracobunidae dari anak benua India dan NumidotheriumMoeritherium, dan Barytherium dari Afrika. Hewan-hewan ini relatif kecil dan bersifat akuatik. Nantinya, genera seperti Phiomia dan Palaeomastodon muncul; habitat Palaeomastodonkemungkinan berada di hutan atau daerah berhutan terbuka. Keanekaragaman Proboscidea mulai berkurang pada masa Oligosen.[31] Salah satu spesies penting dari masa ini adalah Eritreum melakeghebrekristosi dari Tanduk Afrika, yang mungkin merupakan nenek moyang gajah.[32] Pada awal periode Miosen terjadi diversifikasi kedua dengan munculnya Deinotheriidae dan Mammutidae. Deinotheriidae memiliki kekerabatan dengan Barytherium dan hidup di Afrika dan Eurasia,[33] sementara Mammutidae mungkin merupakan keturunan Eritreum[32] dan menyebar ke Amerika Utara.[33]

Radiasi kedua berlangsung dengan munculnya Gomphothere pada masa Miosen,[33] yang kemungkinan berevolusi dari Eritreum;[32]familia ini berasal dari Afrika dan menyebar ke semua benua kecuali Australia dan Antarktika. Anggota kelompok ini meliputiGomphotherium dan Platybelodon.[33] Radiasi ketiga terjadi pada akhir Miosen dan mengakibatkan munculnya elephantids, yang berasal dari Gomphothere dan secara perlahan menggantikan mereka.[34] Primelephas gomphotheroides dari Afrika menghasilkan Loxodonta,Mammuthus, dan ElephasLoxodonta merupakan percabangan pertama, yang berlangsung antara masa Miosen dan Pliosen, sementaraMammuthus dan Elephas berpisah pada awal masa Pliosen. Loxodonta tetap menghuni Afrika, sementara Mammuthus dan Elephasmenyebar ke Eurasia, dan Mammuthus mencapai Amerika Utara. Pada saat yang sama, stegodontid (kelompok Proboscidea lain yang merupakan keturunan dari Gomphothere) menyebar di Asia, termasuk di anak benua India, CinaAsia Tenggara, dan Jepang. Mammutid terus berevolusi menjadi spesies baru, seperti mastodon amerika.[35]

Pada awal masa Pleistosen, tingkat spesiasi elephantid meninggi. Loxodonta atlantica menjadi spesies yang paling umum di Afrika utara dan selatan, namun digantikan oleh Elephas iolensis pada akhir masa Pleistosen. Spesies Loxodonta modern baru menjadi dominan setelah Elephas iolensis mengalami kepunahan. Elephas berdiversifikasi menjadi spesies baru di Asia, seperti E. hysudricus danE. platycephus;[36] E. platycephus kemungkinan merupakan nenek moyang gajah asia modern.[37] Mammuthus berevolusi menjadi beberapa spesies, termasuk spesies mammoth berbulu yang terkenal.[36] Pada masa Pleistosen Akhir, akibat terjadinya glasiasi kuarter, sebagian besar spesies Proboscidea mengalami kepunahan, dan kurang lebih 50% genera dengan massa lebih dari 5 kg (11 lb) musnah.[38]
Proboscidea mengalami beberapa tren evolusi, seperti pembesaran ukuran, yang membuat banyak spesies memiliki tinggi hingga mencapai 4 m (13 ft).[39] Seperti megaherbivora lainnya, termasuk Sauropoda yang telah punah, ukuran gajah mungkin berkembang untuk memungkinkan mereka bertahan dengan memakan tumbuhan bernutrisi rendah.[40] Anggota tubuh mereka tumbuh menjadi lebih panjang dan kakinya menjadi lebih pendek dan luas. Proboscidea awal memiliki tulang rahang yang lebih panjang dan tempurung kepala yang lebih kecil, sementara Proboscidea selanjutnya memiliki tulang rahang yang lebih pendek, yang menggeser pusat gravitasi pada kepala. Tengkorak menjadi lebih besar, terutama tempurung kepala, sementara leher memendek agar lebih dapat menopang tengkorak. Pembesaran ukuran mengakibatkan munculnya belalai yang membantu menjangkau sesuatu. Jumlah gigi geraham kecilgigi seri, dan gigi taring berkurang. Gigi geraham dan geraham kecil menjadi lebih besar dan terspesialisasi. Gigi seri kedua atas berubah menjadi taring, yang mungkin lurus, melengkung (ke atas atau ke bawah), atau berputar (tergantung spesies). Pada beberapa spesies Proboscidea, taringnya berasal dari gigi seri bawahnya.[39]Gajah masih menunjukkan beberapa karakteristik yang merupakan turunan dari nenek moyang mereka yang akuatik, seperti anatomi telinga tengah dan testis internal pada jantan.[41]
Terdapat perdebatan mengenai hubungan kekerabatan antara Mammuthus dengan Loxodonta atau Elephas. Beberapa penelitian DNA menunjukkan bahwa Mammuthus lebih berhubungan erat dengan Loxodonta,[42][43] sementara penelitian lainnya meyakini kedekatan Mammuthus dengan Elephas.[9] Namun, analisis genom mitokondrial mammoth berbulu (diurutkan tahun 2005) membuktikan bahwa Mammuthus lebih dekat dengan Elephas.[20][24][44] Bukti morfologis menunjukkan bahwa Mammuthus dan Elephasmerupakan taksa saudara, sementara hasil perbandingan protein albumin dan kolagen mengindikasikan bahwa jarak kekerabatan antara ketiganya kurang lebih sama.[45]Beberapa ilmuwan meyakini bahwa embrio mammoth hasil kloning suatu saat dapat dimasukkan ke rahim gajah asia[46]
Spesies kerdil
Beberapa spesies Proboscidea hidup di pulau dan mengalami dwarfisme. Hal ini berlangsung pada masa Pleistosen, ketika beberapa populasi gajah terisolasi akibat meningkatnya permukaan laut, walaupun gajah kerdil sudah ada pada masa Pliosen awal. Gajah-gajah tersebut kemungkinan menyusut karena ketiadaan populasi predator yang besar dan sumber daya yang terbatas. Sebaliknya, mamalia seperti hewan pengerat mengalami gigantisme dalam keadaan seperti ini. Proboscidea kerdil pernah hidup di IndonesiaKepulauan Channel California, dan beberapa pulau di Laut Tengah.[47]

Elephas celebensis di Sulawesi diyakini merupakan hasil dwarfisme dari Elephas planifronsElephas falconeri di Malta dan Sisilia (yang tingginya hanya mencapai 1 m (3 ft)) kemungkinan berevolusi dari Palaeoloxodon antiquus. Keturunan Palaeoloxodon antiquus lainnya pernah ada di Siprus. Gajah kerdil yang tidak diketahui nenek moyangnya juga pernah hidup di KretaKyklades, dan Dodecanese, sementara mammoth kerdil pernah ada di Sardinia.[47] Mammoth kolumbia mengkolonisasi Kepulauan Channel California dan berevolusi menjadi mammoth pigmi (Mammuthus exilis). Tinggi spesies ini mencapai 1.2–1.8 m (4–6 ft) dan massanya kurang lebih 200–2,000 kg (440–4,410 lb). Populasi mammoth berbulu kecil pernah bertahan hidup di Pulau Wrangel, kini 87 mil di sebelah utara pesisir Siberia, hingga 4.000 tahun yang lalu.[47] Setelah ditemukan pada tahun 1993, mereka dianggap sebagai mammoth kerdil.[48] Klasifikasi ini telah ditinjau ulang dan semenjak Konferensi Mammoth Internasional Kedua pada tahun 1999, hewan-hewan tersebut tidak lagi dianggap sebagai "mammoth kerdil" yang sesungguhnya.[49]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar