Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
·
Kebun binatang dan sirkus
Dalam sejarah, gajah
disimpan untuk dijadikan tontonan di Mesir, Tiongkok, Yunani, dan Romawi Kuno. Bangsa Romawi mempertarungkan
gajah dengan manusia dan hewan lain dalam acara gladiator. Pada masa modern, gajah biasanya
dapat ditemui dikebun binatang dan sirkus di seluruh dunia. Gajah di sirkus
dilatih untuk melakukan trik-trik. Salah satu gajah sirkus yang paling terkenal
adalah Jumbo (1861 – 15 September 1885), yang
merupakan atraksi utama di Sirkus Barnum & Bailey.[152] Gajah-gajah tersebut tidak
dapat bereproduksi dengan baik karena kesulitan penanganan gajah jantan yang
sedang mengalami musth dan terbatasnya pemahaman mengenai siklus estrus pada
gajah betina. Gajah yang lebih umum digunakan di sirkus dan kebun binatang
modern adalah gajah asia. Setelah CITES memasukkan gajah asia ke dalam Apendiks
I pada tahun 1975, jumlah gajah afrika di kebun binatang meningkat pada tahun
1980-an, walaupun impor gajah asia berlanjut. Setelah itu, Amerika Serikat
menerima banyak gajah afrika dari Zimbabwe, yang mengalami overpopulasi gajah.[153] Pada tahun 2000, sekitar
terdapat 1.200 gajah asia dan 700 gajah afrika di kebun binatang dan sirkus.
Populasi gajah di penangkaran terbesar adalah di Amerika Utara, yang memiliki
370 gajah asia dan 350 gajah afrika. Sekitar 380 gajah asia dan 190 gajah
afrika hidup di Eropa, sementara Jepang memiliki sekitar 70 gajah asia dan 67
gajah afrika.[153]
Poster sirkus sekitar
tahun 1900
Keberadaan gajah di kebun
binatang telah menjadi subjek kontroversi. Pendukung kebun binatang meyakini
bahwa keberadaan gajah memberikan kemudahan akses bagi para peneliti dan
menyediakan uang dan keahlian untuk melestarikan habitat alami mereka; selain
itu, kebun binatang dikatakan dapat mengamankan spesies. Sementara itu,
kritikus mengklaim bahwa gajah-gajah di kebun binatang mengalami tekanan fisik
dan mental.[154] Selain itu, gajah di
penangkaran menunjukkan perilaku stereotipi (perilaku repetitif
karena kurangnya stimulasi untuk hewan) dengan bergerak maju mundur atau
menggoyang-goyangkan belalai. Perilaku seperti ini telah diamati pada 54% gajah
di kebun binatang di Britania Raya.[155] Lebih lagi, gajah-gajah di
kebun binatang tampaknya memiliki jangka waktu kehidupan yang lebih pendek dari
gajah di alam bebas, yaitu 17 tahun; namun, penelitian lain menunjukkan bahwa
gajah di kebun binatang hidup sama lamanya dengan gajah di alam bebas.[156]
Penggunaan gajah di
sirkus juga menuai kontroversi; Humane Society of the United States menuduh
sirkus melakukan penganiayaan dan membuat sengsara hewan-hewan mereka.[157] Berdasarkan kesaksian di
pengadilan federal Amerika Serikat pada tahun 2009, CEO Sirkus Barnum &
Bailey Circus Kenneth
Feld mengakui bahwa gajah sirkus dipukul dengan menggunakan
pecutan berujung logam di belakang telinga, di bawah dagu, dan di kaki. Feld
menyatakan bahwa hal tersebut penting untuk melindungi pekerja sirkus dan
mengakui bahwa seorang pelatih gajah ditegur karena menggunakan alat kejut
listrik pada gajah. Walaupun begitu, ia menentang klaim bahwa praktik tersebut
melukai gajah.[158] Beberapa pelatih mencoba
melatih gajah tanpa menggunakan hukuman fisik. Ralph
Helfer dikenal karena menggunakan kelemahlembutan dan pahala
saat melatih hewan-hewannya, termasuk gajah dan singa.[159]
·
Penularan penyakit
Seperti mamalia-mamalia
lainnya, gajah dapat mengidap menyakit dan menularinya ke manusia,
seperti tuberkulosis. Pada
tahun 2012, dua gajah di Kebun Binatang Tete d’Or,Lyon,
didiagnosis mengidap tuberkulosis. Karena berisiko menularinya ke hewan lain
dan pengunjung kebun binatang, pemerintah kota memerintahkan agar gajah-gajah
tersebut dieutanasia, tetapi pengadilan nantinya
membatalkan keputusan ini.[160] Di cagar gajah di Tennessee, seekor gajah afrika yang berusia 54
tahun diyakini merupakan penyebab infeksi tuberkulosis pada delapan pekerja.[161]
·
Serangan
Gajah dapat menunjukkan
perilaku agresif dan melancarkan tindakan yang destruktif terhadap manusia.[162] Di Afrika, kelompok gajah
remaja menghancurkan rumah-rumah di desa-desa setelah dilakukannya pembantaian
gajah pada tahun 1970-an dan 1980-an. Serangan ini diyakini merupakan
pembalasan dendam.[99][163] Di India, gajah jantan
seringkali memasuki desa pada malam hari, sehingga menghancurkan rumah-rumah
dan membunuh beberapa warga. Antara tahun 2000 hingga 2004, gajah menewaskan
sekitar 300 orang di Jharkhand, sementara
dari tahun 2001 hingga 2006, 239 orang di Assam dibunuh
oleh gajah.[162] Penduduk setempat melaporkan
bahwa beberapa gajah tampak mabuk selama terjadinya serangan, walaupun para
pejabat meragukan hal ini.[164][165] Gajah yang diduga mabuk
menyerang sebuah desa di India untuk kedua kalinya pada Desember 2002, sehingga
menewaskan enam orang, yang kemudian dibalas oleh warga dengan membunuh 200
gajah.[166]
·
Penggambaran dalam budaya
Gajah telah digambarkan
dalam seni semejak masa Paleolitikum. Di Afrika terdapat banyak
lukisan batu dan ukiran gajah, terutama diSahara dan Afrika bagian selatan.[167] Di Timur Jauh, gajah digambarkan dalam
bentuk motif di
kuil-kuil Hindu dan Buddha.[168] Orang-orang yang belum pernah
bertemu langsung dengan gajah seringkali mengalami kesulitan dalam menggambar
mereka mereka.[169]Bangsa Romawi Kuno, yang menyimpan gajah di
penangkaran, mampu menggambar gajah secara akurat dalam bentuk mosaik diTunisia dan Sisilia. Pada awal Abad Pertengahan, ketika Bangsa Eropa hanya memperoleh
sedikit akses terhadap gajah, gajah digambarkan seperti makhluk fantasi. Mereka
digambarkan dengan tubuh seperti kuda atau Bovinae, dengan belalai yang seperti terompet
dan taring seperti yang dimiliki oleh babi hutan; bahkan beberapa gajah digambarkan
memiliki kaki kuda. Gajah umumnya digambarkan dalam motif yang dibuat oleh
tukang batu di gereja-gereja Gothik. Setelah dikirim sebagai hadiah kepada
raja-raja Eropa pada abad ke-15, penggambaran gajah menjadi lebih akurat,
termasuk salah satu gambar yang dibuat oleh Leonardo da Vinci. Walaupun begitu, beberapa
orang Eropa masih menggambarkan gajah dengan gaya tertentu.[170] Lukisan surrealis Max
Ernst pada tahun 1921 yang berjudul The
Elephant Celebes menggambarkan seekor gajah sebagai
sebuah silo dengan selang yang seperti belalai.[171]
Gajah juga menjadi subjek
kepercayaan religius. Suku Mbuti percaya
bahwa roh leluhur mereka yang sudah meninggal berdiam di dalam tubuh gajah.[168] Suku-suku Afrika lain juga
percaya bahwa kepala suku mereka akan bereinkarnasi menjadi seekor gajah. Pada
abad ke-10, suku Igbo-Ukwu mengubur
pemimpin mereka bersama dengan taring gajah.[172] Sementara peran gajah dalam
kepercayaan suku-suku di Afrika hanya bersifat totemik,[173] di Asia gajah memiliki lebih
banyak peranan. Di Sumatra, gajah dikaitkan
dengan petir. Demikian pula dengan Hinduisme, yang
percaya bahwa gajah terkait dengan badai petir karena Airawata, bapak semua gajah, melambangkan
petir dan pelangi.[168] Salah satu dewa terpenting
dalam Hinduisme, yaitu Ganesha yang
berkepala gajah, memiliki peringkat yang sama dengan dewa-dewa tertinggi lain,
yaitu Siwa, Wisnu,
dan Brahma.[174] Ganesha dikaitkan dengan penulis
dan pedagang dan diyakini dapat memberi keberhasilan dan mengambulkan keinginan
seseorang.[168] Sementara itu, dalam Buddhisme, Buddha dikatakan sebagai gajah putih yang
bereinkarnasi menjadi manusia.[175] Dalam tradisi Islam,
tahun 570, yaitu tahun ketika Nabi Muhammad lahir, dikenal sebagai Tahun Gajah.[176] Bangsa Romawi sendiri mengira
gajah merupakan hewan yang menyembah matahari dan bintang.[168]
Dalam budaya populer Barat, gajah merupakan
lambang eksotik, terutama karena tidak ada hewan sejenis yang akrab dikenal oleh
penonton di Barat (sama seperti jerapah, kuda nil, dan badak).[177] Penggunaan gajah sebagai
lambang Partai
Republikan Amerika Serikat dimulai setelah digambarnya kartun
pada tahun 1874 oleh Thomas Nast.[178] Gajah juga dijadikan tokoh
dalam cerita, terutama dalam cerita untuk anak-anak, yang menggambarkan gajah
sebagai tokoh dengan perilaku yang patut dicontoh. Mereka biasanya menjadi
penganti manusia dengan nilai-nilai manusia yang ideal. Banyak kisah yang
menceritakan gajah muda yang kembali ke komunitas yang berhubungan erat,
seperti kisah "The Elephant's Child" dari Just
So Stories karya Rudyard Kipling, kisah Dumbooleh The Walt Disney
Company, dan The Saggy Baggy Elephant oleh Kathryn
and Byron Jackson. Pahlawan gajah lain meliputi Babar oleh Jean
de Brunhoff, Elmer oleh David
McKee, dan Horton oleh Dr. Seuss.[177]
Beberapa referensi budaya
menekankan besar tubuh dan keunikan eksotik gajah. Contohnya, dalam bahasa
Inggris, istilah "white
elephant" (gajah putih) merupakan istilah untuk sesuatu yang
mahal, tidak berguna, dan aneh.[177] Ungkapan "elephant
in the room" (gajah di dalam ruangan) merujuk kepada kebenaran
yang begitu jelas tetapi diabaikan.[179] Dalam bahasa Indonesia, peribahasa yang mirip dengan
ungkapan tersebut adalah "gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di
seberang lautan terlihat", yang berarti kesalahan sendiri tidak terlihat
tetapi kesalahan orang lain terlihat jelas.[180] Sementara itu, kisah orang buta dan seekor gajah mengajarkan
bahwa realita dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda.[181]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar