Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Anatomi dan morfologi[
Gajah adalah hewan darat
terbesar di dunia. Tinggi gajah afrika kurang lebih 3–4 m (10–13 ft)
dan massanya bervariasi antara 4,000–7,000 kg (8,800–15,400 lb),
sementara tinggi gajah asia adalah 2–3.5 m (7–11 ft) dan massanya
3,000–5,000 kg (6,600–11,000 lb).[10]Baik pada gajah asia maupun afrika,
gajah jantan lebih besar dari gajah betina.[11][14] Di antara gajah-gajah afrika,
gajah di hutan lebih kecil daripada gajah di sabana.[18] Kerangka gajah terdiri dari
326–351 tulang.[50] Tulang belakangnya terhubung
dengan persendian yang erat, sehingga membatasi fleksibilitas tulang punggung.
Gajah afrika memiliki 21 pasang iga, sementara gajah asia memiliki 19 atau 20
pasang.[51]
Tengkorak gajah dapat
menahan gaya yang dihasilkan oleh pengungkitan taring dan tubrukan
kepala-ke-kepala. Bagian belakang tengkorak merata dan memiliki lengkungan yang
melindungi otak di segala arah.[52] Di tengkorak terdapat rongga udara (sinus)
yang mengurangi berat tengkorak sementara menjaga kekuatan secara keseluruhan.
Rongga-rongga ini membuat bagian dalam tengkorak tampak seperti sarang madu. Tempurung kepala gajah besar dan
memiliki tempat untuk melekatkan otot agar dapat menopang seluruh kepala.
Rahang bawahnya padat dan berat.[50] Karena ukuran kepalanya yang
besar, leher gajah relatif pendek agar dapat menopang kepala.[39] Mata gajah bergantung
pada kelenjar harderian untuk
menjaga kelembabannya karena gajah tidak memiliki aparat
lakrimal. Membran pengelip melindungi bola mata.
Penglihatan gajah sendiri dibatasi oleh lokasi dan keterbatasan pergerakan
mata.[53] Gajah merupakan hewan dikromat [54] dan dapat melihat dengan baik dalam cahaya redup,
namun tidak dalam cahaya terang.[55] Rata-rata suhu tubuh gajah
adalah 35,9 °C (97 °F), yang serupa dengan manusia. Seperti unta,
gajah dapat meningkatkan atau mengurangi suhunya untuk menyesuaikan diri dengan
keadaan lingkungan.[56]
Telinga
.
Telinga gajah memiliki
dasar yang tebal dan ujung yang tipis. Daun telinga gajah, atau pina, memiliki sejumlah pembuluh darah yang
disebut pembuluh darah
kapiler. Darah yang hangat mengalir ke pembuluh darah kapiler, sehingga
membantu mengeluarkan panas tubuh yang berlebih. Hal ini berlangsung ketika
pina berada pada posisi diam, dan gajah dapat mengeluarkan lebih banyak panas
dengan mengepakkan daun telinganya. Semakin luas permukaan telinga, semakin
banyak jumlah pembuluh darah kapiler, sehingga lebih banyak panas yang dapat
dikeluarkan. Di antara semua gajah, gajah semak afrika hidup di iklim terpanas,
sehingga memiliki daun telinga terbesar.[57] Elephants are capable of hearing at low
frequencies and are most sensitive at 1 kHz.[58]
Belalai
Belalai atau proboscis adalah penggabungan hidung
dengan bibir atas, walaupun pada tahap fetus bibir
atas dan belalai masih terpisah.[39] Belalai gajah panjang dan
terspesialisasi agar dapat dengan mudah digerakkan. Belalai memiliki kurang
lebih 150.000 fasikel
otot, tanpa tulang dan sedikit lemak.
Terdapat dua jenis otot: superfisial (di permukaan) dan internal. Otot superfisial
terbagi menjadi ototdorsal, ventral,
dan lateral,
sementara otot internal terbagi menjadi otot melintang dan menyebar. Otot-otot
belalai terhubung dengan bukaan bertulang di tengkorak. Septum
nasal terdiri dari satuan-satuan otot kecil yang membentang
secara horizontal di antara lubang hidung. Tulang rawan memisahkan lubang
hidung di dasarnya.[59] Sebagai hidrostat
otot, belalai digerakkan dengan mengkoordinasi kontraksi otot secara
tepat. Otot-otot bekerja bersama dan berlawanan satu sama lain. Saraf proboscis
yang unik – yang terbentuk dari saraf
maksila dan fasialis – menjalar di kedua sisi
belalai.[60]
Belalai gajah memiliki
beberapa fungsi, seperti bernapas, mencium bau, menyentuh, menggapai, dan
menghasilkan suara.[39] Indera penciuman gajah mungkin
empat kali lebih sensitif dari anjing
pemburu darah.[61] Kemampuan belalai untuk
melintir dan melingkar memungkinkan pengambilan makanan, bergelut dengan
sesamanya,[62] dan mengangkat beban dengan
massa hingga 350 kg (770 lb).[39] Belalai gajah dapat pula
digunakan untuk menyeka mata dan memeriksa lubang pada tubuh,[62] serta untuk membuka kulitkacang tanpa memecahkan isinya.[39] Dengan belalainya, gajah dapat
menjangkau ketinggian hingga 7 m (23 ft) dan menggali untuk menemukan
air di bawah lumpur atau pasir.[62] Individu gajah dapat
menunjukkan preferensi lateralnya saat sedang mencoba menggapai sesuatu dengan
menggunakan belalai: beberapa cenderung melintirkan belalainya ke arah kiri,
sementara yang lain ke arah kanan.[60]Gajah dapat menghisap air untuk
diminum atau disiramkan ke tubuh mereka.[39] Gajah asia dewasa dapat menampung
8.5 L (2.2 US gal) air di belalainya.[59] Mereka juga menyemprotkan debu
atau rumput pada diri mereka sendiri.[39] Saat berada di bawah air,
gajah menggunakan belalainya sebagai snorkel untuk
bernapas.[41]
Gajah afrika memiliki dua
perpanjangan yang berbentuk seperti jari di ujung belalai, yang memungkinkannya
untuk menjangkau dan mengangkut makanan ke mulutnya. Gajah asia hanya memiliki
satu perpanjangan, dan biasanya membelit makanan dengan belalainya dan kemudian
memasukkannya ke mulutnya.[10] Gajah asia lebih dapat
melakukan koordinasi otot dan mampu melakukan tugas yang lebih kompleks.[59] Tanpa belalai, gajah sulit
bertahan hidup,[39] walaupun dalam kasus tertentu
gajah dengan belalai pendek berhasil bertahan. Seekor gajah pernah terlihat
sedang memakan rumput dengan melipatkan lutut depannya, mengangkat kaki
belakangnya, dan mengambil rumput dengan menggunakan bibir.[59] Gajah semak afrika dapat
mengalami floppy
trunk syndrome, yaitu kelumpuhan belalai yang disebabkan oleh
degradasi sistem saraf tepi dan
otot.[63]
Gigi
Pada umumnya gajah
memiliki 26 gigi: gigi seri, yang
disebut taring,
12 gigi geraham kecil susu,
dan 12 gigi geraham. Tidak
seperti kebanyakan mamalia yang pada awalnya memiliki gigi
susu yang kemudian digantikan oleh gigi dewasa permanen, gajah
merupakan hewan polifiodon, atau dalam
kata lain memiliki siklus rotasi gigi sepanjang hidupnya. Gigi untuk mengunyah
diganti enam kali dalam jangka waktu kehidupan gajah. Gigi lama tidak
digantikan oleh gigi baru yang tumbuh di rahang (seperti pada kebanyakan
mamalia), tetapi gigi baru tumbuh di bagian belakang mulut dan maju ke depan
dan mendorong keluar gigi lama. Gigi pengunyah pertama di rahang tanggal
setelah gajah berumur dua atau tiga tahun. Gigi pengunyah kedua tanggal saat
gajah berusia enam tahun. Gigi pengunyah ketiga tanggal pada umur 9–15 tahun,
dan gigi keempat akan bertahan hingga usia 18–28 tahun. Gigi kelima akan
tanggal pada awal umur 40-an, dan gigi keenam (yang biasanya merupakan gigi
terakhir) akan tetap ada hingga akhir hayat. Gigi gajah memiliki semacam
bubungan, yang lebih tebal dan berbentuk seperti permata pada gajah afrika.[64]
1. Taring
Taring gajah merupakan
modifikasi gigi seri di rahang atas. Taring tersebut menggantikan gigi susu
ketika gajah berumur 6–12 bulan dan tumbuh dengan laju pertumbuhan sekitar
17 cm (7 in) per tahun. Taring yang baru tumbuh memiliki
lapisan enamel yang
nantinya akan luntur. Dentin pada taring
disebut gading dan pada penampang lintangnya
terdapat pola garis yang berselang-seling, yang menghasilkan area berbentuk
permata. Sebagai jaringan yang hidup, taring sendiri relatif rembut; taring
gajah kurang lebih sekeras mineral kalsit. Sebagian besar gigi seri dapat dilihat
dari luar, sementara sisanya melekat pada sendi di tengkorak. Paling tidak
sepertiga taring merupakan pulp dan
beberapa taring memiliki saraf yang membentang hingga ke ujung. Maka sulit
untuk mengambil taring gajah tanpa melukai hewannya. Saat diambil, gading mulai
mengering dan pecah bila tidak disimpan di tempat yang dingin dan lembab.
Taring memiliki beberapa fungsi. Taring dapat digunakan untuk menggali untuk
menemukan air, garam, dan akar; menguliti atau menandai pohon; dan
menyingkirkan pohon dan cabang yang menghalangi jalan. Saat sedang berkelahi,
taring digunakan untuk menyerang dan bertahan, serta untuk melindungi belalai.[65]
Seperti manusia yang
memiliki preferensi menggunakan tangan kanan atau kiri, gajah juga memiliki
preferensi dalam menggunakan taring kiri atau kanannya. Taring yang dominan
biasanya tampak sudah sering digunakan karena biasanya lebih pendek dan
memiliki ujung yang lebih tumpul. Pada gajah afrika, baik jantan maupun betina
sama-sama memiliki taring, dan panjangnya kurang lebih sama (yaitu mencapai
3 m (10 ft)),[65] namun taring jantan cenderung
lebih tebal.[66] Sementara itu, pada gajah
asia, hanya jantan yang memiliki taring besar. Gajah asia betina memiliki
taring yang sangat kecil, atau bahkan tidak sama sekali.[65] Ada pula gajah jantan yang tak
bertaring dan biasanya dapat ditemui di Sri Lanka.[67] Panjang taring gajah asia jantan dapat
menyamai taring gajah afrika, tetapi taring gajah asia biasanya lebih tipis dan
ringan; taring gajah asia terbesar yang pernah diketahui memiliki panjang
3.02 m (10 ft) dan massa 39 kg (86 lb). Namun, akibat
perburuan gading di Afrika,[68] and Asia[69] terjadi proses seleksi alamyang menghasilkan taring yang
lebih pendek.[70]
Kulit
Kulit gajah biasanya
sangat keras, dengan ketebalan 2.5 cm (1 in) di punggung dan sebagian
kepalanya. Kulit di sekitar mulut, anus,
dan di dalam telinga jauh lebih tipis. Warna kulit gajah pada umumnya abu-abu,
tetapi gajah afrika tampak berwarna kecoklatan atau kemerahan setelah berkubang
di lumpur yang berwarna. Gajah asia mungkin menunjukkan tanda-tanda
depigmentasi, terutama di dahi, telinga, dan kulit di sekitarnya. Anak gajah
memiliki rambut yang berwarna kecoklatan atau kemerahan, terutama di kepala dan
punggungnya. Begitu gajah menjadi dewasa, rambut mereka menjadi lebih gelap dan
jarang, tetapi konsentrasi rambut dan bulu yang padat masih dapat ditemui di
ujung ekor, dagu, alat kelamin, dan di sekitar mata dan bukaan mata. Gajah asia
umumnya memiliki lebih banyak rambut daripada gajah afrika.[71]
Gajah menggunakan lumpur
untuk melindungi kulitnya dari sinar ultraviolet, walaupun kulit gajah sebenarnya
sangat sensitif. Bila gajah tidak secara rutin berkubang dalam lumpur, kulitnya
akan mengalami kerusakan akibat sinar matahari, gigitan serangga, dan hilangnya
kelembaban. Setelah berkubang, gajah biasanya menggunakan belalainya untuk
menyemburkan debu ke tubuhnya, dan debu ini akan mengering menjadi kerak
pelindung. Gajah mengalami kesulitan dalam mengeluarkan panas dari kulitnya
karena rasio luas permukaan terhadap volumenya yang
jauh lebih rendah dari manusia. Sementara itu,
beberapa gajah didapati mengangkat kaki mereka untuk memaparkan tapak kakinya
ke udara.[71]
Kaki,
lokomosi, dan postur
Posisi anggota tubuh
gajah lebih vertikal daripada mamalia lain untuk menopang beban gajah. Tulang
yang panjang pada anggota tubuh memiliki tulang
spongiosa sebagai pengganti rongga
medular, sehingga memperkuat tulang sementara masih memungkinkanhemopoesis.[72] Baik anggota tubuh depan
maupun belakang dapat menopang beban gajah, walaupun 60% beban ditopang oleh
bagian depan.[73] Karena tulang-tulang anggota
tubuh berada di bawah tubuh, gajah dapat berdiam diri dalam waktu yang lama
tanpa perlu menghabiskan banyak energi. Gajah tidak dapat memutar kaki depannya
karena tulang hasta dan pengumpilnya berada pada posisipronasi yang
tetap; telapak manus selalu
menghadap ke belakang.[72] Otot pronator kuadratis dan pronator teres biasanya
tereduksi atau tidak ada sama sekali.[74] Kaki gajah yang bundar memiliki jaringan
lembut di bawah manus atau pes,
yang mendistribusikan beban gajah.[73] Mereka tampaknya
memiliki tulang
sesamoid, yang merupakan “jari kaki” tambahan yang serupa dengan
“ibu jari” tambahan pada panda raksasa, yang turut membanti
mendistribusikan beban.[75] Paling tidak terdapat lima jari kaki di
kaki depan dan belakang.[10]
Gajah dapat bergerak ke
depan atau belakang, tetapi tidak dapat berderap, melompat, atau mencongklang.
Mereka hanya memiliki dua gaya berjalan di darat, yaitu berjalan biasa dan
berjalan cepat.[72] Saat berjalan, tungkai
berperan sebagai pendulum, dengan pinggul dan bahu yang naik dan turun
sementara kaki berada di tanah. Tanpa “fase aerial”, gaya berjalan yang cepat
tidak memenuhi kriteria “berlari”, walaupun gajah menggunakan kakinya seperti
hewan pelari lainnya, dengan pinggul dan bahu yang turun dan kemudian naik sementara
kaki berada di tanah.[76] Saat sedang bergerak cepat,
kaki depan gajah tampak “berlari”, sementara kaki belakangnya tampak “berjalan”
dengan kaki belakang; laju gajah yang bergerak cepat sendiri dapat mencapai
18 km/h (11 mph).[77] Dengan laju seperti ini, sebagian besar
hewan berkaki empat lainnya akan mencongklang. Kinetika yang seperti pegas
merupakan perbedaan antara pergerakan gajah dengan hewan lain.[78] Selama lokomosi, cushion pads (struktur
khusus pada kaki gajah yang membantu menopang beban) berkontraksi dan
mengurangi rasa sakit dan bunyi yang dihasilkan oleh pergerakan hewan yang
sangat berat.[73] Gajah juga merupakan perenang
yang handal. Mereka dapat berenang selama enam jam tanpa menyentuh dasarnya,
dan dapat berenang sejauh 48 km (30 mi) dengan kecepatan
2.1 km/h (1 mph).[79]
Organ
internal dan seksual
Massa otak gajah berkisar
antara 4.5–5.5 kg (10–12 lb), sementara massa otak manusia kurang
lebih hanya 1.6 kg (4 lb). Walaupun begitu, berdasarkan rasio otak
terhadap massa tubuh, otak gajah sebenarnya lebih kecil. Saat lahir,
massa otak gajah sudah mencapai 30–40% massa otak dewasa. Cerebrum dan cerebellum terbentuk dengan baik,
sementara lobus temporal gajah
sangat besar hingga tampak menyembul.[56]
Gajah memiliki kantong di
tenggorokan yang dapat digunakan untuk menyimpan air.[39] Sementara itu, massa jantung
gajah kurang lebih 12–21 kg (26–46 lb). Jantung gajah memiliki apeks berujung
ganda, yang merupakan karakteristik yang tidak biasa pada mamalia.[56]Saat berdiri, jantung gajah berdetak
30 kali per menit. Tidak seperti hewan lain, detak jantung gajah bertambah 8
hingga 10 kali per menit ketika sedang berbaring.[80] Diafragma gajah melekat pada paru-paru, dan pernapasan lebih bergantung
pada diafragma daripada perluasan tulang rusuk.[56] Gajah tidak memiliki rongga pleura, tetapi memiliki jaringan ikat yang membantu gajah
menghadapi perbedaan tekanan saat tubuhnya berada di bawah air dan ketika belalainya
keluar dari permukaan air untuk menghisap udara,[41] walaupun kebenaran penjelasan
ini telah dipertanyakan.[81] Menurut penjelasan lain, adaptasi ini ada
karena membantu gajah menghisap air melalui belalai.[41] Gajah menghisap udara dengan
menggunakan belalainya, walaupun sebagian udara juga masuk melalui mulut. Gajah
juga memiliki sistem fermentasi
hindgut, dan panjang ususnya dapat mencapai 35 m (115 ft).
Sebagian besar asupan makanan gajah tidak dicerna meskipun prosesnya
berlangsung hingga sehari.[56]
Testis gajah jantan
terletak di dekat ginjal. Panjang penis gajah
dapat mencapai 100 cm (39 in) dan diameternya kurang lebih 16 cm
(6 in). Penis gajah berbentuk S saat sedang ereksi dan memiliki lubang uretral eksternal yang berbentuk
Y. Gajah betina memiliki klitoris yang
panjangnya dapat mencapai 40 cm (16 in). Vulvanya terletak di antara
kaki belakang, sementara pada kebanyakan mamalia vulva terletak di dekat etor.
Penentuan status kehamilan gajah sendiri cukup sulit karena rongga abdominal gajah yang besar.
Sementara itu, kelenjar susu gajah
betina menempati ruang di antara kaki depan, sehingga bayi gajah yang sedang
menyusui dapat dijangkai oleh belalai sanga induk.[56] Gajah juga memiliki organ yang
unik, yaitu kelenjar
temporal, yang terletak di kedua sisi kepala. Organ ini terkait
dengan perilaku seksual, dan gajah jantan mengeluarkan cairan dari kelenjar
tersebut dalam keadaan musth.[82] Gajah betina juga didapati mengeluarkan
cairan dari kelenjar temporal.[61]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar