Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Harimau
Sumatra, subspesies harimau terkecil yang hanya ada di Indonesia
Indonesia
merupakan salah satu dari tiga negara terbesar yang memiliki keanekaragaman
floran dan fauna. Satwa Indonesia memiliki keanekaragaman yang tinggi karena
wilayahnya yang luas dan berbentuk kepulauan tropis[1].
Keanekaragaman yang tinggi ini disebabkan oleh Garis
Wallace, membagi Indonesia menjadi dua area; zona zoogeografi Asia,
yang dipengaruhi oleh fauna Asia, dan zona zoogeografi Australasia, dipengaruhi oleh fauna Australia[2].
Pencampuran fauna di Indonesia juga dipengaruhi oleh ekosistem yang
beragam di antaranya: pantai, bukit pasir, muara, hutan
bakau, dan terumbu karang.
Masalah ekologi
yang muncul di Indonesia adalah proses industrialisasi dan pertumbuhan populasi yang
tinggi, yang menyebabkan prioritas pemeliharaan lingkungan menjadi
terpinggirkan[3].
Keadaan ini menjadi semakin buruk akibat aktivitas pembalakan
liar, yang menyebabkan berkurangnya area hutan; sedangkan masalah lain,
termasuk tingginya urbanisasi, polusi
udara, manajemen sampah dan sistem pengolahan limbah juga berperan dalam
perusakan hutan.
Asal fauna
Indonesia[sunting | sunting sumber]
Garis Wallace,
membagi fauna Indonesia ke dua kategori
Asal mula fauna
Indonesia sangat dipengaruhi oleh aspek geografi dan peristiwa geologi di benua
Asia dan Australia[4].
Pada zaman purba, pulau Irian (New Guinea) tergabung dengan benua
australia.
Hughasiusilum[sunting | sunting sumber]
Nama dari benua
Australia 12.000.000 tahun yang lalu untuk sebagai landasan benua Australia
yang akan dibentuk dari batuan yang umurnya muda yaitu kurang dari 2 juta
tahun.
Benua Australia
membentuk superbenua yang dinamakan superbenua selatan Gondwana.
Superbenua ini mulai terpecah 140 juta tahun yang lalu, dan daerah New Guinea
(yang dikenal sebagai Sahul) bergerak menuju khatulistiwa.
Akibatnya, hewan di New Guinea berpindah ke benua Australia
dan demikian pula sebaliknya, menimbulkan berbagai macam spesies yang hidup di
berbagai area hidup dalamekosistem.
Aktivitas ini terus berlanjut sampai dua daerah
ini benar-benar terpisah.
Di lain pihak,
pengaruh benua Asia merupakan akibat dari reformasi superbenua Laurasia, yang
timbul setelah pecahnya Rodinia sekitar 1 miliar tahun yang lalu. Sekitar 200
juta tahun yang lalu, superbenua Laurasia benar-benar terpisah, membentuk Laurentia (sekarang Amerika)
dan Eurasia.
Pada saat itu, sebagian wilayah Indonesia masih belum terpisah dari superbenua
Eurasia. Akibatnya, hewan-hewan dari Eurasia dapat saling berpindah dalam
wilayah kepulauan Indonesia, dan dalam ekosistem yang berbeda, terbentuklah
spesies-spesies baru.
Pada abad ke-19, Alfred Russel Wallace mengusulkan ide
tentang Garis Wallace, yang merupakan suatu garis imajiner
yang membagi kepulauan Indonesia ke dalam dua daerah, daerah zoogeografis Asia
dan daerah zoogeografis Australasia (Wallacea)[5].
Garis tersebut ditarik melalui kepulauan
Melayu, di antara Kalimantan (Borneo) danSulawesi (Celebes);
dan di antara Bali dan Lombok.[6] Walaupun
jarak antara Bali dan Lombok relatif pendek, sekitar 35 kilometer, distribusi
fauna di sini sangat dipengaruhi oleh garis ini. Sebagai contoh, sekelompok
burung tidak akan mau menyeberang laut terbuka walaupun jaraknya pendek[6].
Paparan Sunda[sunting | sunting sumber]
Gajah
Sumatera, subspesies Gajah Asia
Hewan-hewan di
daerah paparan Sunda, yang meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan dan
pulau-pulau kecil yang mengelilinginya, memiliki karakteristik yang menyerupai
fauna di Asia. Selama zaman es, setelah Laurasia terpecah, daratan benua Asia
terhubung dengan kepulauan Indonesia. Selain itu, kedalaman laut yang relatif
dangkal memungkinkan hewan-hewan untuk bermigrasi ke paparan Sunda.
Spesies-spesies besar seperti harimau, badak, orangutan, gajah, dan leopard ada di daerah ini,
walaupun sebagian hewan ini sekarang dikategorikan terancam punah. Selat
Makassar, laut antara Kalimantan dan Sulawesi,
serta selat Lombok, antara Bali dan Lombok, yang
menjadi pemisah dari Garis Wallace, menandakan akhir dari daerah paparan Sunda.
Paparan Sunda
memiliki spesies berjumlah total 515. Dari jumlah itu, 173 di antaranya
merupakan spesies endemik daerah ini.[7] Sebagian
besar dari spesies-spesies ini terancam keberadaannya dan hampir punah. Dua
spesies orangutan, Pongo
pygmaeus (orangutan Kalimantan) dan Pongo
abelii (orangutan Sumatra) termasuk dalam daftar merah IUCN.
Mamalia terkenal
lain, seperti bekantan (Nasalis
larvatus), badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) juga sangat
terancam jumlah populasinya.
Burung[sunting | sunting sumber]
Menurut Konservasi
International, sebanyak 771 spesies unggas terdapat di paparan Sunda.
Sebanyak 146 spesies merupakan endemik daerah ini. Pulau Jawa dan Bali memiliki
paling sedikit 20 spesies endemik, termasuk Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan Cerek Jawa (Charadrius javanicus).
Berdasarkan data
dari Burung Indonesia, jumlah jenis
burung di Indonesia sebanyak 1598 jenis . Dengan ini membawa Indonesia
menempati urutan pertama sebagai negara yang memiliki jumlah jenis burung
terbanyak se-Asia.
Sejak tahun 2007, Burung Indonesia secara berkala memantau status keterancaman dari burung-burung terancam punah yang berada di Indonesia berdasarkan data dari BirdLife International. Tahun 2007-2009 terjadi penurunan status keterancaman burung secara berturut-turut mulai dari 119 jenis (2007), 118 jenis (2008), dan 117 jenis (2009).
Sejak tahun 2007, Burung Indonesia secara berkala memantau status keterancaman dari burung-burung terancam punah yang berada di Indonesia berdasarkan data dari BirdLife International. Tahun 2007-2009 terjadi penurunan status keterancaman burung secara berturut-turut mulai dari 119 jenis (2007), 118 jenis (2008), dan 117 jenis (2009).
Reptil dan
Amfibia[sunting | sunting sumber]
Sebanyak 449
spesies dari 125 genus reptil diperkirakan hidup di paparan Sunda. Sebanyak 249
spesies dan 24 genus di antaranya adalah endemik. Tiga famili reptil juga
merupakan endemik di wilayah ini: Anomochilidae, Xenophidiidae and Lanthanotidae. Famili
Lanthanotidae diwakili oleh earless monitor (Lanthanotus borneensis), kadal coklat
Kalimantan yang sangat langka dan jarang ditemui. Sekitar 242 spesies amfibia dalam
41 genus hidup di daerah ini. Sebanyak 172 spesies, termasuk Caecilian dan enam genus
adalah endemik.
Sebanyak hampir
200 spesies baru ditemukan di daerah ini dalam sepuluh tahun terakhir. Sekitar
1000 spesies ikan diketahui hidup di dalam sungai, danau, dan rawa-rawa di
paparan Sunda. Kalimantan mempunyai sekitar 430 spesies, dan sekitar 164 di
antaranya diduga endemik. Sumatra memiliki 270 spesies, sebanyak 42 di
antaranya endemik.[8]Ikan
arwana emas (Scleropages formosus) yang cukup terkenal
merupakan contoh ikan di daerah ini.
Wallacea[sunting | sunting sumber]
Wallacea merupakan
daerah transisi biogeografis antara paparan Sunda ke arah barat, dan daerah Australasian ke
arah timur. Daerah ini meliputi sekitar 338.494 km² area daratan, terbagi ke
dalam banyak pulau kecil. Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan sebagian Nusa
Tenggara merupakan bagian dari daerah ini. Karena faktor geografinya, daerah
ini terdiri dari banyak jenis hewan endemik dan spesies fauna yang unik.
Mamalia[sunting | sunting sumber]
Wallacea
mempunyai sejumlah 223 spesies asli mamalia. Sebanyak 126 di antaranya
merupakan endemik daerah ini. Sebanyak 124 spesies kelelawar bisa ditemukan di
daerah ini. Sulawesi, sebagai pulau terbesar di daerah ini memiliki
jumlah mamalia yang paling banyak. Sejumlah 136 spesies, 82 spesies dan
seperempat genus di antaranya adalah endemik. Spesies yang luar biasa, seperti anoa (Bubalus depressicornis) dan babi rusa (Babyrousa babyrussa) hidup di pulau ini.
Sedikitnya tujuh spesies kera (Macaca spp.) dan lima spesies tarsius (Tarsius spp.)
juga merupakan hewan khas daerah ini.
Burung[sunting | sunting sumber]
Lebih dari 700
jenis burung bisa ditemui di Wallacea, dan lebih dari setengahnya adalah
endemik kawasan ini. Di antara 258 genus yang ada, ada 11%-nya adalah endemik
kawasan Wallacea. Sejumlah 16 genus hanya dapat dijumpai di subkawasan
Sulawesi. Subkawasan Sulawesi terdiri dari pulau utama Sulawesi, dan
pulau-pulau kecil di sekitarnya, termasuk Kepulauan Talaud dan Sangihe di
utara, Pulau Madu di Laut Flores di sebelah selatan, termasuk juga Kep. Togian,
Kep. Banggai, Kep. Tukangbesi, dan Kep. Sula yang menjembatani kekayaan
keragaman burung antara subkawasan Sulawesi dan Maluku.
Banyaknya jumlah jenis endemik di subkawasan ini tidak hanya berasal dari pulau utama Sulawesi tapi juga tersebar di banyak pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Serindit sangihe(Loriculus catamene[9]), Seriwang sangihe (Eutrichomyias rowleyi[10]), Gagak banggai (Corvus unicolor[11]), Punggok Togian (Ninox burhani), Gosong sula (Megapodius bernsteinii), Kepudang-sungu sula (Coracina sula), dan Raja-perling sula (Basilornis galeatus). Sedangkan jenis-jenis endemik pulau Sulawesi meliputi Anis sulawesi (Cataponera turdoides), Sikatan matinan (Cyornis sanfordi), Julang sulawesi (Aceros cassidix) dan Kangkareng sulawesi (Penelopides exarhatus). Banyak jenis yang hanya terdapat di subkawasan ini adalah jenis-jenis terancam punah secara global.
Banyaknya jumlah jenis endemik di subkawasan ini tidak hanya berasal dari pulau utama Sulawesi tapi juga tersebar di banyak pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Serindit sangihe(Loriculus catamene[9]), Seriwang sangihe (Eutrichomyias rowleyi[10]), Gagak banggai (Corvus unicolor[11]), Punggok Togian (Ninox burhani), Gosong sula (Megapodius bernsteinii), Kepudang-sungu sula (Coracina sula), dan Raja-perling sula (Basilornis galeatus). Sedangkan jenis-jenis endemik pulau Sulawesi meliputi Anis sulawesi (Cataponera turdoides), Sikatan matinan (Cyornis sanfordi), Julang sulawesi (Aceros cassidix) dan Kangkareng sulawesi (Penelopides exarhatus). Banyak jenis yang hanya terdapat di subkawasan ini adalah jenis-jenis terancam punah secara global.
Reptil dan
Amfibia[sunting | sunting sumber]
Dengan 222
spesies, 99 di antaranya endemik, Wallacea memiliki jenis reptil yang sangat
beragam. Di antaranya adalah 118 spesies kadal yang 60 di antaranya adalah
endemik; 98 spesies ular, 37 spesies di antaranya adalah endemik; lima spesies
kura-kura, dua spesiesnya merupakan endemik; dan satu spesies buaya, buaya
Indo-Pasifik (Crocodylus porosus). Tiga genus endemik ular
yang hanya dapat ditemukan di wilayah ini: Calamorhabdium, Rabdion, dan Cyclotyphlops. Salah
satu reptil yang mungkin paling terkenal di Wallacea adalah komodo (Varanus komodoensis), yang diketahui
keberadaannya hanya di Pulau Komodo, Padar, Rinca, dan tepi
barat Flores.
Sebanyak 58
spesies amfibia khas dapat ditemukan di Wallacea. Sebanyak 32 spesies di
antaranya adalah endemik. Ini menggambarkan kombinasi elemen katak daerah
Indo-Melayu dan Australasia yang mempesona.
Ikan[sunting | sunting sumber]
Ada sekitar 310
spesies ikan tercatat dari sungai-sungai dan danau-danau Wallacea. Sebanyak 75
spesies di antaranya adalah endemik. Walaupun masih sedikit yang dapat
diketahui mengenai ikan ikan dari Kepulauan Maluku dan Kepulauan Sunda Kecil, 6
spesies diketahui sebagai endemik. Di pulau Sulawesi, ada 69 spesies yang
diketahui, 53 di antaranya adalah endemik. Danau Malili di Sulawesi
Selatan, dengan kedalamannya yang kompleks dan arusnya yang deras memiliki
paling sedikit 15 jenis ikan telmatherinidendemik, dua di
antaranya mewakili genus endemik, tiga endemik Oryzia, dua endemik halfbeaks,
dan tujuh endemik gobie.
Invertebrata[sunting | sunting sumber]
Terdapat sekitar
82 spesies kupu-kupu yang ada di daerah Wallacea, 44 spesies di antaranya
adalah endemik. Sejumlah 109 spesies kumbang juga terdapat di sekitar daerah
wilayah ini, 79 di antaranya adalah endemik. Satu spesies yang mengagumkan dan
mungkin merupakan lebah terbesar di dunia, (Chalicodoma pluto) terdapat
di utara Maluku. Serangga yang hewan betinanya bisa tumbuh sampai 4 cm ini,
membangun sarang secara komunal pada sarang rayap di pepohonan hutan dataran
rendah.
Sekitar 50
moluska endemik, tiga spesies kepiting endemik, dan sejumlah spesies udang endemik
juga diketahui berasal dari Wallacea.
Konservasi[sunting | sunting sumber]
Walaupun 45%
daerah Indonesia masih belum berpenghuni dan ditutupi hutan
tropis, pertumbuhan populasi Indonesia yang tinggi dengan
industrialisasinya, secara perlahan memengaruhi keberadaan fauna di Indonesia.
Ditambah lagi, perdagangan hewan ilegal semakin menambah parah kondisi fauna
Indonesia, termasuk di antaranya badak, orangutan, harimau, dan beberapa
spesies amfibia[5].
Hingga 95% hewan yang dijual di pasar diambil langsung dari hutan dan bukannya
melalui konservasi; dan lebih dari 20% hewan ini meninggal dalam
perjalanan.[12].
Pada tahun 2003,
World Conservation Union mencatat 147 spesies mamalia, 114 burung, 91 ikan dan 2 invertebrata termasuk
dalam hewan-hewan yang terancam punah[12].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar